Selasa, 14 Februari 2012

Life Event Scale, Mengukur Stress dalam Perubahan Hidup

PERISTIWA/KEHIDUPAN (NILAI)
Kematian suami/Istri (100)
Perceraian (73)
Hidup terpisah dalam perkawinan (65)
Hukuman penjara (63)
Kematian anggota keluarga dekat (63)
Luka atau sakit (diri sendiri) (53)
Perkawinan (50)
Dipecat dari pekerjaan (47)
Rukun kembali antara suami-istri (45)
Pensiun (45)
Perubahan kesehatan anggota keluarga (44)
Kehamilan (40)
Masalah seksual (39)
Mendapat anggota keluarga baru (39)
Penyesuaian kembali dalam bisnis (39)
Perubahan situasi keuangan (38)
Kematian teman dekat (37)
Perubahan bidang pekerjaan (36)
Penyitaan barang yang digadaikan (30)
Perubahan tanggung jawab pada pekerjaan (29)
Masalah dengan keluarga suami/istri (29)
Prestasi hebat seseorang (28)
Istri mulai/berhenti bekerja (26)
Mulai/mengakhiri sekolah (26)
Perubahan kondisi kehidupan (25)
Mengubah kebiasaan pribadi (24)
Masalah dengan bos (23)
Pindah rumah (20)
Pindah sekolah (20)
Pindah rekreasi (19)
Perubahan kegiatan keagamaan (19)
Perubahan kegiatan sosial (18)
Perubahan kebiasaan tidur (16)
Perubahan kebiasaan makan (15)
Liburan (13)
Natal (12)
Pelanggaran hukum ringan (11)

Rabu, 08 Februari 2012

On The Way Wonosobo-Solo, Full Struggle

Senin, 6 Februari 2012.
Aku pulang ke solo hari ini jam 09.45 dari rumah. Aku diantar sama masku ke varia seperti biasa. Aku membawa tas gendong, tas travelling, dan magic com. Kemudian aku nunggu di depan varia. Lama banget. Biasanya kan jam 10 udah ada tuh bus ekonomi. Nha kok yang ada malah bus bisnis nusantara. Sebenarnya aku ingin ikutan bus itu karena aku udah nunggu setengah jam. Tapi ada ibu2 yang menguatkan untuk ikut bus ekonomi aja.

Kemudian jam setengah 11 bus maju makmur datang. Nggak ada tempat duduk yang tersisa. Aku dan ibu itu duduk di atas mesin, panaaaas banget. Tapi gimana lagi daripada nggak dapet tempat duduk. Sampai kertek, dudukku semakin tak nyaman karena didesel2 sama 3 ibu2. Jadi total ada 4 orang yang menaiki kursi mesin itu. Masya Allah, aku sangat tersiksa. Sekujur kakiku panas sekali. Aku pikir lebih baik aku berdiri saja, karena mereka yang berdiri tak akan merasakan panasnya mesin. Tapi batinku berkata lagi, kamu harus bersyukur karena dapat tempat duduk. Coba bayangin 3 jam berdiri apa kuat? Iya ya, aku harus bersyukur. Aku juga terus2an berdo’a dalam hati. Ya Robb, nggak papa panas seperti ini, ini baru panas dunia, gimana panasnya nerakamu Ya Robb. Na’udzubillahimindzalik. Ya Robb, tak apa aku merasakan panas ini, asalkan berilah hamba kekuatan, keselamatan, dan kesehatan Ya Robb untuk menghadapi ini. Sembari berdo’a bismillahi tawakkaltu ‘alallohi la haula wa la kuwwata illa billah. Subhanalladzi sakkhorolana hadza wa ma kunna lahu mukrinina wa inna illa robbina la mun qolibun. Ku baca berulang2 sampai hatiku tenang. Tak lama kemudian, mbak2 di belakangku teriak. Hah, kenapa ini? Aku tengok ke belakang, ternyata radiatornya berasap. Kebul2 tak karuan. Dan aku memilih untuk berdiri karena panasnya mesin makin terasa. Kondektur bus mengucuri radiator dengan 2 botol air mineral besar. Dan ditutupi dengan handuk. Lama, lima menit mungkin. Kemudian sopir merasa nggak kuat ngegas lagi karena penumpangnya overload (150 mungkin). Terus pak sopir bilang, ayo kita berhenti di atas situ, ini udah nggak kuat lagi. Kata kondektur, ah masih kuat kok, sambil ngocor2in air.

Nha kok tiba2 busnya mandeg, karena memang nggak kuat lagi. Orang2 pada terdiam dan 2 detik kemudian pada panik sambil turun berlarian. Cepet cepet ni mau kebakar, kata salah seorang penumpang yang menambah kepanikan penumpang lain termasuk aku. Sopir dan kondektur malah santai aja. Tenang aja, nggak kenapa2 kok, sambil ngucur2n air. Aku pun ikut panik dan mengambil tas travellingku dengan cepat. Aku mau mengambil magic com. Tanganku udah bisa meraih magic com, Cuma nggak bisa ngangkat, jadi aku udah turun, tapi tanganku masih di dalam. Ada mas2 baik hati yang mengangkatkan magic com. Aku tak sempat berterima kasih. Aku pun berjalan menjauhi bus itu, takut meledak duar. Lalu tiba2 aku dirubung oleh 2 mbak2 dan 1 ibu2 tadi. Kami membentuk forum membahas kelalaian bus maju makmur tersebut. Tak kunjung ada solusi, tiba2 bus sumeh lewat. Beberapa orang memilih melanjutkan perjalanan dengan bus sumeh. Aku pun masih ikut dalam forum merencanakan baiknya gimana. Akhirnya kelamaan diskusi, aku memutuskan untuk ikut bus sumeh. Biarin bayar lagi yang penting aku bisa nyampe solo sore ini. Dan keadaannya nggak jauh beda. Aku tetap berdiri.

Ada bapak2 yang bilang, dik duduk di depan dekat sopir aja. Aku bilang, emang boleh didudukin ya pak? Karena kursinya terlihat dinunggingin. Dan aku menghampiri kursi depan dengan terengah2 smabil nggeret barang bawaan. Pak, kursinya boleh didudukin nggak? Udah ada yang punya dik, jawab pak kondektur judes. Akhirnya aku pasrah berdiri di depan. Lama kelamaan mundur karena banyak penumpang. Aku pun akhirnya terlempar ke tengah. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam. Hampir 3 jam aku berdiri. Aku udah merasa pusing dan nggak kuat berdiri. Tas gendong aku taruh di bawah dan aku duduk nglemprak. Tak peduli siapa depanku dan siapa belakangku. Aku duduk di alas bus dengan malangnya. Tak ada yang menanyakan kenapa dik, pusing ya? Ini kursiku didudukin aja. Nggak ada sama sekali, semua apatis. Sampai terminal ambarawa, aku berdiri. Menuju terminal bawen, aku merasakan pusing lagi. Aku pun duduk lagi di tengah para penumpang yang berdiri. Masya Allah, rasanya seperti saat ospek satu setengah tahun yang lalu. Pingsan, dehidrasi, dan darah rendah. Aku butuh minum atau kayu putih. Tapi aku nggak bawa itu semua. Karena biasanya aku memang nggak suka minum di bus.

Pasrah, dan beristighfar dalam hati, sambil memejamkan mata. Akhirnya aku pun duduk di kursi. Itu pun tak lama, hanya 5 menit. Kemudian sampingku merokok dengan nistanya. Aku pun sehera menutup hidung. Aku nggak ingin jadi perokok pasif.
Kemudian sampai terminal bawen. Sopir dan kondektur tidak merencanakan untuk masuk ke dalam terminal bawen karena jam terbang mepet. Kemudian ada pak polisi yang mengarahkan untuk masuk ke dalam terminal. Alhamdulillah. Aku tak perlu repot2 gotong barang sampai ke dalam terminal, ujarku.
Lalu aku naik bus semarnag solo berAC. Alhamdulillah, nyaman sekali. Sekaligus menenggak air putih yang ku beli dari pedangang asongan. Benar, aku dehidrasi dan hipotensi.

Di sampingku duduklah bapak2 usia 40 tahun. Dia bercerita tentang 7 bersaudara dan betapa berbakti dan akur2 mereka. Terus bercerita tentang profesi, anak, solo, wonosobo, dan keponakan. Katanya dia punya keponakan yang seumuran aku, kelahiran 91. Terus lama kelamaan bicara nggak penting, aku Cuma nggih2 ora kepanggih. Terakhir dia bilang. Besok mampir aja kalo di solo, ke rumah saya di bekonang. Nanti saya kasih no. Hp saya (liat aku sedang smsan jadi pingin ngasih no. Hp dia). Aku bilang nggak sempat main pak karena sibuk kuliah dan nggak ada motor. Hp pun ku masukkan. Dia nggak nanya2 lagi sampai aku turun di kerten. Aku pun pamit. Jangan2 salam batinnya gue jodohin elu sama keponakan gue #yaela

Karena sudah lelah, akhirnya aku naik taksi menuju kost. Biar mahalpun, aku sudah capek soalnya dengan berdiri 4 jam di bus. Hmmm.
Sampai kost disambut Hasri dan Eka dengan cerita dan senyuman waaah. Seakan hilang lelah dan letihku tadi. Aku pun langsung membersihkan seisi kost yang sudah 5 minggu tak tersentuh.

Semoga ada hikmah di balik cobaan.

Rabu, 01 Februari 2012

Psychology, Not Too Bad, Psychology is The Best!

Well, gak terasa sudah satu setengah tahun aku berada di Kota Solo, menempa ilmu psikologi. So far, psychology is very very interesting. Makin tinggi semester, makin beragam ilmu psikologi yang dipelajari dan makin menarik.

Meski aku dulunya tak ingin di sini. Cita2ku dulu menjadi seorang akuntan, karena prospeknya cerah. Maka, setelah lulus SMA, aku mendaftar di beberapa universitas yang berjuruskan akuntansi. Idealis memang. Mungkin juga tidak realistis bagi beberapa orang di sekitarku karena aku sekolah di jurusan IPA, tapi tertarik dan mendaftar di jurusan rumpun sosial-ekonomi, akuntansi.

Motivasiku mungkin pertama dari kedua kakakku yang mengambil kuliah jurusan manajemen dan perpajakan. Saudara2 sepupuku mayoritas berkuliah di jurusan akuntansi. Mungkin berkiblat dari situlah, aku bersikeras untuk menembus jurusan itu.

Awalnya aku ditawari PMDK UI. Waktu itu bulan Januari 2010. Aku berusaha up to date informasi perkuliahan dari BK, internet, kakak tingkat, pokoknya tanya sana sini. Googling sana sini, meskipun waktu itu fasilitas internet aku dapatkan dari HP (males bolak balik warnet). Akhirnya setelah mempertimbangkan berbagai hal, aku mendaftar PMDK akuntansi UI. Berani sekali mungkin. Guru BK saja sudah mengingatkan, tahun lalu kakak tingkat ada yang tidak lolos masuk akuntansi UI, karena dari IPA. Tapi dengan segala keidealisan, aku mendaftarnya. Dan aku harus mengikhlaskannya karena aku tidak diterima di jurusan ini.

Aku pun mendaftar akuntansi UI melalui jalur lainnya, SIMAK UI dan UMB. Lagi2 juga tidak ada yang diterima. Akhirnya aku mendaftar UM UGM, dengan menempatkan akuntansi pada urutan pertama tentunya. Dan lagi2 juga tidak diterima. Mungkin juga karena pengetahuan sosial-ekonomiku belum terasah dibandingkan dengan anak IPS lain. Intinya kalah bersaing. Air mataku mungkin sampai habis karena tidak kunjung diterima di universitas. Sampai akhirnya aku menurunkan idealisku dengan mempertimbangkan psikologi sebagai alternatif lain. Aku juga menurunkan grade di SNMPTN, karena UI dan UGM kuotanya sangat sedikit. Dan aku juga harus mengalah, dengan menembak UNS sebagai tempat kuliahku. Padahal aku belum pernah ke Solo sama sekali. Tapi biarlah karena yang kuota UNS memang paling besar di SNMPTN dan biaya hidup juga lebih miring dibandingkan dengan kota lainnya.

Berikut jurusan yang aku pilih pada saat mendaftar kuliah:
1.PMDK UI
Akuntansi

2.UM UGM
Akuntansi
Ilmu Gizi
Psikologi

3.SIMAK UI
Akuntansi
Ilmu Gizi
Psikologi

4.UMB
Psikologi UI
Kesehatan Masyarakat UI
Gizi UI
Akuntansi UNNES

5.SNMPTN
Akuntansi UNS
Psikologi UNS
Peternakan UNDIP

6.STAN
Perpajakan
PBB
Akuntansi

Setelah ditolak semua dari nomer 1 sampai dengan 4, aku pun mengikuti ujian SNMPTN. Soal2 Ujian Masuk sudah aku pelajari, dari yang offline sampai online. Untuk SNMPTN, aku hanya mempelajari buku SNMPTN pemberian mbakku, sepintas saja. Aku malah mantengin belajar di STAN. Karena soal SNMPTN itu lebih susah dan njlimet, harus pake trik untuk mengerjakannya.

Ujian SNMPTN dan STAN berturut2. Setelah SNMPTN, barulah USM STAN. Aku bolak balik ke Jogja untuk ujian tersebut.

Waktu pengumuman SNMPTN, aku sudah pasrah. Aku sangat pesimis dan memikirkan kemungkinan terburuk diterima di peternakan, dan aku harus bisa menjadi peternak yang sukses. Dan takdir berkata lain. Allah menghendaki aku kuliah di Psikologi UNS. Subhanallah. Aku sangat bahagia sekali waktu itu karena diterima di PTN dengan jerih payahku selama ini.

Akan tetapi, keinginan untuk menjadi akuntan masih tersimpan. Waktu itu pertama kali aku ke Solo, aku merasakan inilah kampusku. Tapi nuraniku berkata, apakah aku bisa mendalami dan tertarik di psikologi?

Aku masih berharap untuk diterima STAN. Tapi takdir berkata lain, STAN menolakku.
Akhirnya dengan bersyukur, aku mengikuti perkuliahan di psikologi UNS. Meskipun aku masih asing dengan apa itu psikologi. Bagaimana prospek ke depannya? Apakah materinya menarik ya? Hmm.

Semester 1. Mata kuliah yang berbau psikologi baru 1, yaitu psikologi umum I, sebagai dasar untuk mempelajari ilmu lainnya. Sering banget pas semester 1 pas lagi pelajaran sampai ketiduran. Ya, karena materinya masih sangat membosankan, masih berbau SMA. Pikirku waktu itu. Tapi gimana pun, aku harus mengupayakan yang terbaik karena di sinilah aku bertahan dan menuntut ilmu. Aku tidak boleh mengecewakan orang2 yang ku sayang.

Semester 2. Materi yang berbau psikologi makin banyak, tetapi baru pengantar. Hmm, cukup menarik dan aku bersemangat kuliah semester ini. Di samping semangat kuliah, aku nyambi belajar untuk USM STAN 2011. Sejak bulan Januari aku mempelajari materi TPA dan TOEFL. Dan update info tentunya. Hingga bulan Juni aku menekuni materi USM STAN. Ya, dalam lubuk hatiku, aku ingin mengejar mimpiku, menjadi seorang akuntan. Tapi apa dikata, ketika pengumuman pendaftaran dibuka, ternyata peraturannya baru. Aku tidak masuk kualifikasi pendaftaran tentang usia. Usiaku 20 tahun lebih 1 bulan per September 2011. Ya Robb, aku menangis sejadi2nya. Jalan untuk menuju mimpi rasannya tertutup begitu saja. Usahaku untuk belajar seakan sia2. Akhirnya dengan penuh perenungan. Ya, mungkin menjadi akuntan bukan yang terbaik. Psikologi, itulah jalan terbaik yang sedang kau tempuh. Aku pun mulai mencintai psikologi sepenuh hati.

Semester 3 aku kuliah dengan semangat menggebu. Dan mengubur impianku untuk kuliah di jurusan akuntansi. Realistisku sekarang bisa mengalahkan idealisku.

Alangkah bahagianya aku, di sini aku menemukan teman-teman terbaik yang pernah aku miliki. Teman dari berbagai daerah dengan berbagai karakter dan ceritanya masing2. Teman2 kost yang penuh dengan kekeluargaan, sahabat2 kampus yang menyenangkan, teman2 organisasi yang menentramkan. Belum lagi dosen yang berwibawa dan intelektual, TU yang kocak, satpam yang ramah, ibu kantin yang selalu menyediakan makanan untuk perut lapar kami. Kakak tingkat yang menginspirasi. Adik tingkat yang menghormati. Semuanya ada di sini, di psikologi UNS tercinta.

Belum lagi menjadi panitia proker2 Himapsi. Dari workshop broadcasting, Lomba Cerpen Islami, Baksos, Serunai Ramadhan, Seminar Psikologi Islam, Wisuda, Kajian Bareng, Islamic Discussion, Osmaru. Selain menjadi panitia juga menjadi peserta seminar, antara lain seminar adiksi seksual, seminat kesehatan mental, kuliah umum, dan sebagainya. Dalam seminar ku temukan sosok2 yang menginspirasi, salah satunya Tika Bisono, S.Psi, M.PsiT.

Selain itu ada makrab, foto angkatan, jalan sehat, Study Visit ke Jakarta (salah satunya ke UI), membeli buku pelajaran ke Shopping Jogja bareng2, dan menghadiri wisuda kakak tingkat.

Selain kuliah memperdalam ilmu psikologi, juga bisa mengasah soft skill dan menambah pengalaman. Jadi, kamu menyesal kuliah di psikologi UNS? Jawabannya adalah TIDAK, aku sangat sangat bersyukur bisa kuliah di psikologi UNS karena di sinilah aku bisa mengembangkan diri sesuai dengan passionku yang sekarang, menjadi seorang psikolog klinis, Insya Allah. Aamiin ya Robbal ‘alamin. I Love Psychology.